Sabtu, 14 Januari 2017

Sejarah Peradaban Islam

Asal Mula Daerah Bedulan

Hingga kini masih banyak masyarakat yang menganggap daerah Bedulan identik dengan black zone (daerah hitam yang rawan kejahatan). Nama Bedulan diambil dari nama  Nyi Mas Baduran (oleh orang Belanda karena lidahnya cadel disebut Bedulan) masyarakatnya juga agamis. memang tidak dipungkiri bahwa di daerah yang terdiri dari empat desa ini ada juga warganya yang bersikap amoral. tapi itu hanya beberapa saja, sama seperti daerah lainnya. Karena itu merupakan hukum alam, setiap kebaikan pasti ada kejahatan.
Didalam daerah Bedulan ada 4 Desa yang terdiri dari Desa Suranenggala, Desa Suranenggala Lor, Desa Suranenggala Kidul dan Desa Suranenggala Kulon.
Daerah tersebut didirikan oleh sepasang suami istri murid dari Mbah Kuwuh Cerbon. Kedua insan ini adalah Nyi Mas Baduran dan Ki Gede Suranenggala.
Sebelum Ki Gede Suranenggala mempersunting Nyi Mas Baduran, Ki Gede Suranenggala harus berjuang memperebutkannya dalam sayembara adu jurit/ adu tanding dengan kesaktian melawan Nyi Mas Baduran yang selain cantik rupanya juga punya kesaktian. Sudah menjadi tradisi wong Cerbon zaman dulu, bila ada wanoja/ wanita cantik dan sakti yang akan dinikahkan, maka calon suaminya harus bisa mengalahkan dirinya terlebih dahulu.
Karena Nyi Mas Baduran adalah salah satu muridnya yang sakti dan berparas rupawan, maka Mbah Kuwu Cerbon menggelar sayembara aduh kesaktian tersebut. Dari sekian banyak gegeden/ Ki Gede yang mengikuti sayembara, hanya Ki Gede Suranenggala yang mampu mengalahkan kesaktian Nyi Mas Baduran. tentu saja setelah melalui perang tanding yang seruh dan memakan waktu lama.
Setelah resmi dinikahkan oleh Mbah Kuwu Cerbon, nyi Mas Baduran dibawa/ diboyong oleh suaminya ke pedukuhan yang terletak di sebelah utara Pedukuhan Celancang. Dari hasil pernikahannya tyersebut, Nyi Mas Baduran dan Ki Gede Suranenggala dikarunai seorang putri yang bernama Nyi Mas Pulung Ayu.

Berawal pada tahun 1556 yang saat itu tanah bedulan masih merupakan hutan rimba yang tidak berpenghuni dan dibawah kekuasaan kerajaan cirebon yang saat itu Kerajaan Cirebon diperintah oleh Sunan Gunung Jati atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syehk Syarif Hidayatullah dan pada saat itu Kerajaan Cirebon merupakan Kerajaan Islam pertama di Jawa Barat, sehingga Cirebon membina hubungan diplomatic dengan demak yang saat itu merupakan Kerajaan Islam terbesar di Tanah Jawa.
Pada tahun 1562 pihak kerajaan cirebon mengutus seorang panglima wanita yang bernama Nyi Mas Baduran untuk menyiapkan sebuah tempat yang akan di gunakan sebagai persinggahan sementara pasukan demak yang akan menyerang Batavia, Sehingga diutuslah Nyi Mas Baduran untuk menyiapkan tempat persinggahan tersebut dan dengan seizin dari Mbah Kuwu Cirebon atau pangeran Walang Sungsang bahwa Nyi Mas Baduran di persilahkan menebang hutan yang tak bertuan yang terletak di sebelah utara pelabuhan muara jati atau yang sekarang Wilayah celangcang dan sebelum berangkat Nyi Mas Baduran di bekali jimat oleh Mbah Kuwu Cirebon Berupa Selendang Yang menurut mbah kuwu selendang itu Nyi Mas Baduran akan sangat berguna dalam melaksanakan tugasnya untuk membuka lahan hutan tersebut.
Sesampainya di wilayah hutan sebelah utara pelabuhan Muara jati Nyi Mas Baduran menebang pohon dan mengumpulkan rerumputan kering yang kemudian sampai kelelahan dan berpikirlah Nyi Mas Baduran seandainya ia seorang diri menebang pepohaonan rasanya tidak akan sanggup untuk menampung sejumlah pasukan demak yang sangat banyak sehingga ia berinisiatif untuk membakarnya dan setelah rerumputan ilalang yang terbakar membumbung asapnya ke angkasa kemudian Nyi Mas Baduran menyabatkan selendangnya ke bara api tersebut agar api tersebut cepat merambat sambil menyabatkan selendang ia mengucap sampai dimana bara api ini terjatuh maka tempat tersebut adalah tanah baduran. Setelah bara padam Nyi Mas Baduran kemudian berkeliling untuk memastikan batas-batas wilayahnya dan akhirnya barat tersebut jatuh sampai wilayah Desa Bojong dan batas desa bakung sehingga kigede bakung merasa tersinggung dengan Nyi Mas Baduran yang menurutnya telah merampas tanahnya, sehingga terjadilah pertikaian atau perkelahian antara kigede bakung dengan Nyi Mas Baduran.
Diwilayah tapal batas bakung dengan tanah bedulan sekarang konon katanya pertikaian itu sampai berlangsung berminggu-minggu sampai keduanya kehabisan tenaga dan kesaktian sehingga sampai pada saat kigede bakung merasa kalah dan mundur tetapi kemudian ada tanaman Labuh Hitam yang tersangkut di kaki Nyi Mas Baduran sehingga terjatuh melihat hal seperti itu kigede bakung menghunuskan kerisnya sehingga Nyi Mas Baduran terluka tetapi Nyi Mas Baduran tidak hanya diam sempat juga menusukan kerisnya ke tubuh kigede bakung sehingga ki gede bakung tewas di tempat itu, tetapi luka taklama setelah kigede bakung meninggal Nyi Mas Baduran pun menyusul tidak kuat tetapi sebelum Nyi Mas Baduran meninggal ia sempat berpesan kepada anak cucu agar kelak jangan menanam pohon Labu Hitam tersebut di tanah bedulan sehingga sampai sekarang masyarakat bedulan tidak ada yang berani menanamnya.
Mendengar kabar Nyi Mas Baduran telah meninggal pihak keraton cirebon sangat menyayangkan hal tersebut sehingga di utuslah putri dari Nyi Mas Baduran sendiri yang bernama Nyi Mas Pulung Ayu dengan didampingi pangeran jaya lelana untuk menguburkanya secara layak dan meneruskan tugasnya untuk mempersiapakan sebuah padukuan sebagai persinggahan pasukan Demak yang akan tiba dan kemudian dirampungkanlah tugas Nyi Mas Baduran oleh pangeran jaya lelana dbersama dengan Nyi Mas Pulung ayu dan setelah itu nyi mas Pulung Ayu memutuskan untuk tinggal di daerah baduran untuk meneruskan dan merawat kuburan dari sang ibunya.
Sama seperti ibunya, Nyi Mas Pulung Ayu selain berwajah cantik juga terkenal pilih tanding dan diksura (sakti mandraguna). Kesaktian Nyi Mas Pulung Ayu ini pernah dimanfaatkan untuk menyelamatkan rakyat Pedukuhan Cirebon dari penggebuk/ bencana penyakit yang dilancarkan oleh seorang gegeden asal Pedukuhan jungbang, yang bernama Ki Saraglanang. Ki Saraglanang tidak senang akan syiar Islam di pedukuhannya. peristiwa ini terjadi ketika Pedukuhan Cerbon belum genap sewindu menjadi kesultanan Cerbon. banyak penduduk Kesultanan Cerbon yang meninggal dunia akibat wabah penyakit yang mematikan itu.
Untuk menghentikan perbuatan Ki Saraglanang ini, Kanjeng Sunan Gunung Jati sebagai penguasa Kesultanan Cerbon segera mengutus Nyi Mas Pulung Ayu untuk menaklukakkannya.
Setelah dinasehati secara baik-baik agar menghentikan perbuatannya yang menyusahkan rakyat banyak itu tidak diacuhkan oleh Ki Saraglanang, maka jalan terakhir yang ditempuh Nyi Mas Pulung Ayu adalah adu Kesakten. Di akhir pertarungan tersebut, Ki Saraglanang dapat dilumpuhkan dan masyarakat Cerbon pun kembali sehat seperti sedia kala.
Sebagai wanita cantik, tentu saja banyak lelaki atau Ki Gede yang berhasrat mempersunting dirinya sebagai istri. Nyi Mas Pulung Ayu mau mengakhiri masa lajangnya apabila para gegeden sanggup memenuhi persyaratan yang diajukannya. Calon suaminya itu harus bisa menanam pohon beringin sebelum sehari sudah berbuah. Memang banyak Ki Gede yang kepincut dengan kecantikan Nyi Mas Pulung Ayu mencoba menjajalnya, tapi tak satu pun yang berhasil. Kecuali seorang pemuda yang bernama Raden Johar.
Dengan disaksikan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati dan para gegeden Raden johar berhasil menanam pohon beringin yang sebelum sehari sudah berbuah. Karena penasaran dengan kesaktian Raden Johar, Nyi Mas Pulung Ayu menantangnya beradu tanding. Ternyata Dewi Pulunggana harus mengakui kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Raden Johar. Nyi Mas Pulung Ayu pun bersedia jadi pendamping hidup Raden Johar. Pernikahan kedua insan yang sama-sama sakti dan telah terpikat tali tresno ini dilaksanakan di Keraton Kesultanan Cerbon. Setelah resmi menikah dengan Nyi Mas Pulung Ayu, Raden Johar diangkat menjadi Patih Agung Kesultanan Cerbon oleh Kanjeng Sunan Gunung jati yang kemudian bergelar Ki Pati Waringin.

Kini makan Ki Patih Waringin dapat kita jumpai di Desa Suranenggala Kidul Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon, sedangkan nama Ki Gede Suranenggala diabadikan oleh warga setempat menjadi nama desanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar