Asal Mula Daerah Bedulan
Hingga
kini masih banyak masyarakat yang menganggap daerah Bedulan identik dengan
black zone (daerah hitam yang rawan kejahatan). Nama Bedulan diambil dari nama Nyi
Mas Baduran (oleh orang Belanda karena lidahnya cadel disebut Bedulan) masyarakatnya
juga agamis. memang tidak dipungkiri bahwa di daerah yang terdiri dari empat
desa ini ada juga warganya yang bersikap amoral. tapi itu hanya beberapa saja,
sama seperti daerah lainnya. Karena itu merupakan hukum alam, setiap kebaikan
pasti ada kejahatan.
Didalam daerah
Bedulan ada 4 Desa yang terdiri dari Desa Suranenggala, Desa Suranenggala Lor,
Desa Suranenggala Kidul dan Desa Suranenggala Kulon.
Daerah tersebut
didirikan oleh sepasang suami istri murid dari Mbah Kuwuh Cerbon. Kedua insan
ini adalah Nyi Mas Baduran dan Ki Gede Suranenggala.
Sebelum
Ki Gede Suranenggala mempersunting Nyi Mas Baduran, Ki Gede Suranenggala harus
berjuang memperebutkannya dalam sayembara adu jurit/ adu tanding dengan
kesaktian melawan Nyi Mas Baduran yang selain cantik rupanya juga punya
kesaktian. Sudah menjadi tradisi wong Cerbon zaman dulu, bila ada wanoja/
wanita cantik dan sakti yang akan dinikahkan, maka calon suaminya harus bisa
mengalahkan dirinya terlebih dahulu.
Karena Nyi Mas Baduran adalah salah satu muridnya yang sakti dan berparas rupawan, maka Mbah Kuwu Cerbon menggelar sayembara aduh kesaktian tersebut. Dari sekian banyak gegeden/ Ki Gede yang mengikuti sayembara, hanya Ki Gede Suranenggala yang mampu mengalahkan kesaktian Nyi Mas Baduran. tentu saja setelah melalui perang tanding yang seruh dan memakan waktu lama.
Setelah resmi dinikahkan oleh Mbah Kuwu Cerbon, nyi Mas Baduran dibawa/ diboyong oleh suaminya ke pedukuhan yang terletak di sebelah utara Pedukuhan Celancang. Dari hasil pernikahannya tyersebut, Nyi Mas Baduran dan Ki Gede Suranenggala dikarunai seorang putri yang bernama Nyi Mas Pulung Ayu.
Karena Nyi Mas Baduran adalah salah satu muridnya yang sakti dan berparas rupawan, maka Mbah Kuwu Cerbon menggelar sayembara aduh kesaktian tersebut. Dari sekian banyak gegeden/ Ki Gede yang mengikuti sayembara, hanya Ki Gede Suranenggala yang mampu mengalahkan kesaktian Nyi Mas Baduran. tentu saja setelah melalui perang tanding yang seruh dan memakan waktu lama.
Setelah resmi dinikahkan oleh Mbah Kuwu Cerbon, nyi Mas Baduran dibawa/ diboyong oleh suaminya ke pedukuhan yang terletak di sebelah utara Pedukuhan Celancang. Dari hasil pernikahannya tyersebut, Nyi Mas Baduran dan Ki Gede Suranenggala dikarunai seorang putri yang bernama Nyi Mas Pulung Ayu.
Berawal pada tahun 1556 yang saat itu tanah
bedulan masih merupakan hutan rimba yang tidak berpenghuni dan dibawah kekuasaan
kerajaan cirebon yang saat itu Kerajaan Cirebon diperintah oleh Sunan Gunung
Jati atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syehk Syarif Hidayatullah dan pada
saat itu Kerajaan Cirebon merupakan Kerajaan Islam pertama di Jawa Barat,
sehingga Cirebon membina hubungan diplomatic dengan demak yang saat itu merupakan
Kerajaan Islam terbesar di Tanah Jawa.
Pada tahun 1562 pihak kerajaan cirebon
mengutus seorang panglima wanita yang bernama Nyi Mas Baduran untuk menyiapkan
sebuah tempat yang akan di gunakan sebagai persinggahan sementara pasukan demak
yang akan menyerang Batavia, Sehingga diutuslah Nyi Mas Baduran untuk
menyiapkan tempat persinggahan tersebut dan dengan seizin dari Mbah Kuwu Cirebon
atau pangeran Walang Sungsang bahwa Nyi Mas Baduran di persilahkan menebang
hutan yang tak bertuan yang terletak di sebelah utara pelabuhan muara jati atau
yang sekarang Wilayah celangcang dan sebelum berangkat Nyi Mas Baduran di
bekali jimat oleh Mbah Kuwu Cirebon Berupa Selendang Yang menurut mbah kuwu
selendang itu Nyi Mas Baduran akan sangat berguna dalam melaksanakan tugasnya
untuk membuka lahan hutan tersebut.
Sesampainya di wilayah hutan sebelah utara
pelabuhan Muara jati Nyi Mas Baduran menebang pohon dan mengumpulkan rerumputan
kering yang kemudian sampai kelelahan dan berpikirlah Nyi Mas Baduran
seandainya ia seorang diri menebang pepohaonan rasanya tidak akan sanggup untuk
menampung sejumlah pasukan demak yang sangat banyak sehingga ia berinisiatif
untuk membakarnya dan setelah rerumputan ilalang yang terbakar membumbung asapnya
ke angkasa kemudian Nyi Mas Baduran menyabatkan selendangnya ke bara api
tersebut agar api tersebut cepat merambat sambil menyabatkan selendang ia
mengucap sampai dimana bara api ini terjatuh maka tempat tersebut adalah tanah
baduran. Setelah bara padam Nyi Mas Baduran kemudian berkeliling untuk memastikan
batas-batas wilayahnya dan akhirnya barat tersebut jatuh sampai wilayah Desa
Bojong dan batas desa bakung sehingga kigede bakung merasa tersinggung dengan
Nyi Mas Baduran yang menurutnya telah merampas tanahnya, sehingga terjadilah
pertikaian atau perkelahian antara kigede bakung dengan Nyi Mas Baduran.
Diwilayah tapal batas bakung dengan tanah
bedulan sekarang konon katanya pertikaian itu sampai berlangsung
berminggu-minggu sampai keduanya kehabisan tenaga dan kesaktian sehingga sampai
pada saat kigede bakung merasa kalah dan mundur tetapi kemudian ada tanaman Labuh
Hitam yang tersangkut di kaki Nyi Mas Baduran sehingga terjatuh melihat hal
seperti itu kigede bakung menghunuskan kerisnya sehingga Nyi Mas Baduran terluka
tetapi Nyi Mas Baduran tidak hanya diam sempat juga menusukan kerisnya ke tubuh
kigede bakung sehingga ki gede bakung tewas di tempat itu, tetapi luka taklama
setelah kigede bakung meninggal Nyi Mas Baduran pun menyusul tidak kuat tetapi sebelum
Nyi Mas Baduran meninggal ia sempat berpesan kepada anak cucu agar kelak jangan
menanam pohon Labu Hitam tersebut di tanah bedulan sehingga sampai sekarang
masyarakat bedulan tidak ada yang berani menanamnya.
Mendengar kabar Nyi Mas Baduran telah meninggal
pihak keraton cirebon sangat menyayangkan hal tersebut sehingga di utuslah
putri dari Nyi Mas Baduran sendiri yang bernama Nyi Mas Pulung Ayu dengan
didampingi pangeran jaya lelana untuk menguburkanya secara layak dan meneruskan
tugasnya untuk mempersiapakan sebuah padukuan sebagai persinggahan pasukan Demak
yang akan tiba dan kemudian dirampungkanlah tugas Nyi Mas Baduran oleh pangeran
jaya lelana dbersama dengan Nyi Mas Pulung ayu dan setelah itu nyi mas Pulung Ayu
memutuskan untuk tinggal di daerah baduran untuk meneruskan dan merawat kuburan
dari sang ibunya.
Sama
seperti ibunya, Nyi Mas Pulung Ayu selain berwajah cantik juga terkenal pilih
tanding dan diksura (sakti mandraguna). Kesaktian Nyi Mas Pulung Ayu ini pernah
dimanfaatkan untuk menyelamatkan rakyat Pedukuhan Cirebon dari penggebuk/
bencana penyakit yang dilancarkan oleh seorang gegeden asal Pedukuhan jungbang,
yang bernama Ki Saraglanang. Ki Saraglanang tidak senang akan syiar Islam di
pedukuhannya. peristiwa ini terjadi ketika Pedukuhan Cerbon belum genap sewindu
menjadi kesultanan Cerbon. banyak penduduk Kesultanan Cerbon yang meninggal
dunia akibat wabah penyakit yang mematikan itu.
Untuk menghentikan perbuatan Ki Saraglanang ini, Kanjeng Sunan Gunung Jati sebagai penguasa Kesultanan Cerbon segera mengutus Nyi Mas Pulung Ayu untuk menaklukakkannya.
Untuk menghentikan perbuatan Ki Saraglanang ini, Kanjeng Sunan Gunung Jati sebagai penguasa Kesultanan Cerbon segera mengutus Nyi Mas Pulung Ayu untuk menaklukakkannya.
Setelah dinasehati secara
baik-baik agar menghentikan perbuatannya yang menyusahkan rakyat banyak itu
tidak diacuhkan oleh Ki Saraglanang, maka jalan terakhir yang ditempuh Nyi Mas Pulung Ayu adalah adu Kesakten. Di akhir
pertarungan tersebut, Ki Saraglanang dapat dilumpuhkan dan masyarakat Cerbon
pun kembali sehat seperti sedia kala.
Sebagai wanita cantik, tentu
saja banyak lelaki atau Ki Gede yang berhasrat mempersunting dirinya sebagai
istri. Nyi Mas Pulung Ayu mau mengakhiri masa lajangnya apabila para gegeden sanggup
memenuhi persyaratan yang diajukannya. Calon suaminya itu harus bisa menanam
pohon beringin sebelum sehari sudah berbuah. Memang banyak Ki Gede yang
kepincut dengan kecantikan Nyi Mas Pulung Ayu mencoba menjajalnya, tapi
tak satu pun yang berhasil. Kecuali seorang pemuda yang bernama Raden
Johar.
Dengan disaksikan oleh
Kanjeng Sunan Gunung Jati dan para gegeden Raden johar berhasil menanam pohon
beringin yang sebelum sehari sudah berbuah. Karena penasaran dengan kesaktian
Raden Johar, Nyi Mas Pulung Ayu menantangnya beradu tanding. Ternyata Dewi Pulunggana harus
mengakui kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Raden Johar. Nyi Mas Pulung Ayu pun bersedia jadi pendamping
hidup Raden Johar. Pernikahan kedua insan yang sama-sama sakti dan telah
terpikat tali tresno ini dilaksanakan di Keraton Kesultanan Cerbon. Setelah
resmi menikah dengan Nyi Mas Pulung Ayu, Raden Johar diangkat
menjadi Patih Agung Kesultanan Cerbon oleh Kanjeng Sunan Gunung jati yang kemudian
bergelar Ki Pati Waringin.
Kini makan Ki Patih Waringin
dapat kita jumpai di Desa Suranenggala Kidul Kecamatan Suranenggala Kabupaten
Cirebon, sedangkan nama Ki Gede Suranenggala diabadikan oleh warga setempat
menjadi nama desanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar