Rabu, 03 Agustus 2016

Ulumul Qur'an



A. Pengertian Al-Qur'an
            Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat. Al-Qur'an merupakan kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW yang pembacaannya merupakan suatu ibadah.

B. Tahapan Penurunan al-Qur'an
            Allah menurunkan Al-Qur'an kepada Rasul kita Muhammad untuk memberi petunjuk kepada manusia. Turunnya Al-Qur'an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan penghuni bumi. Turunnya Al-Qur'an yang pertama kali pada malam Lailatul Qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat Muhammad. Turunnya Al-Qur'an yang kedua kali secara bertahap, berbeda dengan kitab-kitab yang turun sebelumnya, sangat mengagetkan orang dan menimbulkan keraguan terhadapnya sebelum jelas mereka rahasia hikmah ilahi yang ada dibalik itu. Rasulullah tidak menerima risalah agung ini sekaligu, dan kaumnya pun tidak pula puas dengan risalah tersebut karena kesombongan dan permusuhan mereka. Oleh karena itu wahyu pun turun berangsur-angsur untuk menguatkan hati Rsul dan menghiburnya serta mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian sampai Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat-Nya.

Ada beberapa pendapat mengenai  proses penurunan al-Qur’an dari Allah SWT sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Perbedaan pendapat itu pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam 3 kelompok besar, yaitu :
1.      Kelompok yang berpendapat bahwa al-Qur’an diturunkan sekaligus (dari awal sampai akhir) ke langit dunia pada malam al-Qadar. Kemudian sesudah itu diturunkan secara berangsur-angsur dalam tempo 20, 23, atau 25 tahun sesuai dengan perbedaan pendapat diantara sesama mereka.
2.      Golongan yang berpendirian bahwa al-Qur’an diturunkan ke langit dunia bagian demi bagian (tidak sekaligus) pada setiap malam al-Qadar karena tidak ada kesepakatan di kalangan kelompok ini. Jadi, menurut mereka, setiap datang malam al-Qadar pada setiap Ramadhan, bagian tertentu dari al-Qur’an diturunkan ke langit dunia sekadar kebutuhan untuk selama satu tahun, sampai ketemu malam al-Qadar tahun berikutnya. Menurut pendapat ini, penurunan al-Qur’an bagaikan sistem paket yang dilakukan sekali dalam satu tahun, tepatnya pada setiap malam al-Qadar.
3.      Aliran yang menyimpulkan bahwa al-Qur’an itu untuk pertama kali diturunkan pada malam al-Qadar sekaligus, dari Lauh Mahfudz ke Bait al-Izzah dan kemudian setelah itu diturunkan sedikit demi sedikit dalam berbagai kesempatan sepanjang masa kenabian/kerasulan Muhammad SAW.


Berkenaan dengan proses penurunan al-Qur’an, al-Zarqani menyebutkan 3 macam tahapan, yaitu :
1.      Tahap pertama, al-Qur’an diturunkan Allah SWT ke Lauh Mahfuzh, sesuai dengan al-Qur’an QS. Al-Buruuj ayat 21-22.
            Artinya : Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia. Yang (tersimpan)           dalam Lauh Mahfuzh.
2.      Tahapan kedua, al-Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Bayt al-Izzah di langit dunia pada suatu malam yang dinamakan Lailah al-Qadar, sesuai dengan al-Qur’an QS. Al-Qadr ayat 1.
            Artinya : Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
3.      Tahapan ketiga, al-Qur’an diturunkan dari Bayt al-Izzah kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara Malaikat Jibril AS, sebagaimana dalam al-Qur’an QS. Al-Syu’ara’ ayat 193-194.
            Artinya : Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.


3. Bentuk Al-Qur'an yang dibawa Jibril a.s
            Al-Qur'an yang dibawa Jibril adalah dalam bentuk wahyu-wahyu yang diturunkan secara berangsur menurut peristiwa-peristiwa tertentu. Salah satunya adalah pada saat Nabi Muhammad bermuka masam kepada seorang tuna netra yang mendatanginya sehingga Allah menegurnya dengan menurunkan surat 'Abassa.

4. Masa Penurunan Al-Qur'an
            Penurunan yang berlaku pada tahap ini adalah secara beransur-ansur, bermula pada 17hb. Ramadhan tahun 610 masihi di Gua Hira’ hinggalah kewafatan Nabi. Tentang lama tempoh masa al-Qur’an diturunkan secara beransur-ansur itu ulama berselisih pendapat, iaitu :
1.      Setengah ulama menagatakan penurunan al-Qur’an secara beransur-ansur kepada Rasulullah dengan mangambil masa selama 20 tahun.

2.      Menurut al-Khudari di dalam kitabnya Tarikh al-Tasyri’, penurunan al-Qur’an secara beransur-ansur mengambil masa tepat selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Iaitu bermula 17hb. Ramadhan tahun ke-41 Nabi dilahirkan hingga wahyu terakhir 9 zulhijjah tahun Hijrah.
3.      Pendapat lain mengatakan ia mengambil masa selama 23 tahun.
4.      Ada pendapat mengatakan ia mengambil masa 25 tahun.

            Berdasarkan daripada empat pendapat tersebut, pendapat kedua adalah pendapat yang paling tepat dan diterima umum. Karena, Masa diturunkannya Al Qur’an dihitung dari lama tinggalnya Rasul SAW, karena beliau hidup di dua tempat berbeda maka masa penurunan Al Qur’anpun dalam 2 waktu berbeda, yaitu :
1.      Fase ini dihitung dari lamanya Rasulullah tinggal dan mukim di Makkah, dalam hitungan M. Khudori Bek dalam Tarikh Tasyri’ Rasulullah tinggal di Mekkah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari di mulai sejak 17 Ramadhan tahun 41 setelah kelahirannya/ 6 Agustus 610 M sampai dengan Rabi’ul Awwal tahun 53 kelahirannya. Ayat-ayat yang diturunkan di sana berjumlah 86 surat (4.726 ayat) 75,5 % dari keseluruhan Al-Qur’an dan dinamakan dengan ayat-ayat Makkiyah.
2.      Fase ini dihitung sejak Nabi Hijrah ke Yatsrib (Madinah) yaitu bulan Rabi’ul Awwal tahun 53 kelahirannya sampai dengan 9 Dzul hijjah 10 H/ 7 Maret 632 M. dengan demikian beliau tinggal di Madinah selama 9 tahun 9 bulan 9 hari. Ayat-ayat yang diturunkan disana berjumlah 28 surat (1.510 ayat) atau 24,5 % dari keseluruhan Al-Qur’an dan dinamakan dengan ayat-ayat Madaniyyah.
Al-Qur'an tidak turun sekaligus, ayat-ayat al-Qur'an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Para ulama membagi masa turunnya ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode  Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat makiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat madaniyyah.

5. Hikmah Al-Qur'an diturunkan secara Berangsur-angsur
            Adapun hikmah yang dapat kita ambil dari turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur adalah sebagai berikut :

1. Menguatkan dan meneguhkan hati Rasulullah SAW.
            Rasulullah SAW telah menyampaikan dakwahnya kepada manusia, tetapi ia mneghadapi sikap mereka yang membangkang dan watak yang begitu keras. Ia ditantang oleh orang-orang yang berhati batu, berperangai kasar dan kerass kepala. Mereka senantiassa melemparkan berbagai macam gangguan dan ancaman kepada Rasul. Padahal dengan hati tulus ia inginm menyampaikan segala yang baik kepada mereka, sehinnga dalam hal ini Allah mengatakan , " maka barang kali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an)" (al-kahfi:18)
wahyu turun kepada Rasulullah daari waktu kewaktu sehingga dapat meneguhkan hatinya atas dasar kebenaran dan memperkuat kemauannya untuk teteap melangkahkan kaki dijalan dakwah tanpa menghiraukan perlakuan jahil yang di hadapinya, karena yang demikian itu hanyalah kabut di musim panas yang segera akan berakhir.

2. Tantangan dan Mukjizat
            Oranng-orang musyrik senantiasa berkubang dalam kesesatan dan kesombongan hingga melampaui batas. Mereka saling mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud melemahkan dan menantang serta menguji kenabian RasulullahSAW. Maka turunlah Al-Qur'an dengan ayat yang menjelaskan kepada mereka segi kebenaran dan memberikan jawaban yang amat jelas atas pertanyaan-pertanyaan mereka.

3.Mempermudah Hafalan dan Pemahamannya
            Al-Qur'an turun ditengah-tengah umat yang tidak pandai membaca dan menulis. Catatan mereka adalah hafalan dan daya ingatan. Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang tata cara penulisan dan pembukuan yang dapat memungkinkan mereka menuliskan dan membukukannya kemudian menghafal dan memahaminya.





4. Kesesuaian dengan Peristiwa-peristiwa dan pentahapan dalam Penetapan Hukum
            Manusia tidak akan mudah mengikuti dan tunduk kepada agama yang baru ini seandainya Al-Qur'an tidak menghadapi mereka dengan cara yang bijaksana dan memberikan kepada mereka beberapa obat penawar yang ampuh yang dapat menyembuhkan mereka dari kerusakan mereka, maka turunlah hukum mengenai peristiwa itu yang memberikan kejelasan statusnya dann petunjuk serta meletakkan dassar-dasar perundang-undangan bagi mereka, sesuai dengan situasi dan kondisi, satu demi satu.

5.Bukti yang Pasti Bahwa Al-Qur'an diturunkan dari sisi yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji
            Al-Qur'an yang turun secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW dalam waktu lebih dari dua puluh tahun ini ayatnya turun dalam selang waktu tertentu, dan selama ini orang membacanya dan mengkajinya surah demi surah. Ketika itu ia melihat rangkaiannya begitu padat, tersusun cermat sekali denga makna yang saling bertaut, dengan gaya yang begitu kuat serta ayat demi ayat dan surat demi surat saling terjalin bagaikan untaian mutiara yang indah yang belum pernah ada bandingannya dalam perkataan manusia.

Kamis, 21 Juli 2016

Hadits Tarbawi



BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
          Pendidikan merupakan sesuatu yang tidak asing bagi kita, terlebih lagi kita ‎sedang berinteraksi aktif di dalamnya. Kita sepakat bahwa pendidikan diperlukan ‎oleh semua orang. Bahkan dapat dikatakan bahwa dalam proses menuju ‎kedewasaannya, setiap manusia melalui tahap pendidikan ini. ‎ ‎
            Agama Islam merupakan agama yang sempurna, agama yang dibawa Nabi ‎Muammad ini diajarkan melalui mukjizat yang berupa teks al-Qur’an, al-Qur’an ‎merupakan teks rujukan dan pedoman bagi ummatnya dalam seluruh aspek ‎kehidupan termasuk pendidikan. Di dalam al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang ‎tidak menyebutkan makna secara “gamblang” dan jelas, penjelasan dari ayat tersebut ‎diperoleh melalui penjelasan Hadits Nabi yang kemudian disebut sebagai teks utama ‎setelah al-Qur’an. ‎Sebenarnya agama Islam sangat mengutamakan proses pendidikan, hal ‎tersebut dapat dilihat dari lima ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi ‎Muhammad SAW dalam surat al-‘Alaq. Banyak juga hadits yang menjelaskan tentang ‎pentingnya pendidikan bagi manusia. Namun sebagai dua teks utama, ummat Islam ‎seringkali lupa akan ajaran-ajaran yang dijelasknnya.

2. Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalahnya adalah :
a.       Bagaimana Pengertian Hakikat Pendidikan ?
b.      Bagaimana Hakikat Pendidikan Menurut Persfektif Hadits ?

3. Tujuan
            Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah :
a.       Untuk Mengetahui Pengertian Hakikat Pendidikan.
b.      Untuk Memahami Hakikat Pendidikan Menurut Persfektif Hadits.



BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Hakikat Pendidikan
            Sebelum kita memahami pengertian hakikat pendidikan, alangkah baiknya kita pahami dulu pengertian pendidikan. Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Sedangkan hakikat pendidikan adalah suatu proses menumbuh kembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan global.

2. Hakikat pendidikan Menurut Persfektif Hadits
مَنْ اَرَادَالدَّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالْأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
(رواه البخارى ومسلم)
“Barangsiapa yang menghendaki kebaikan di dunia maka dengan ilmu. Barangsiapa yang menghendaki kebaikan di akhirat maka dengan ilmu. Barangsiapa yang menghendaki keduanya maka dengan ilmu”
(HR. Bukhori dan Muslim)

            Selain itu, Rosulullah juga menegaskan bahwa setiap individu muslim baik pria maupun wanita berkewajiban mengenyam pendidikan yang baik dan layak, sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Nabi SAW :
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ :
قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Dari Anas bin Malik beliau berkata : Rasulullah Saw bersabda : Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim. (HR. Ibn Majah)

            Berdasarkan hadits diatas, kita dapat mengetahui dan memahami bahwa menuntut ilmu sangatlah penting bagi kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Karena hanya dengan ilmu, hidup kita menjadi terarah. Bahkan menurut Firman Allah dalam surah Al Mujadalah ayat 11, derajat kita akan ditinggikan ketika kita mempunyai ilmu. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sempurna yang dikaruniai akal dan merupakan potensi dasar yang bersifat tersembunyi. Sehingga manusia membutuhkan pendidikan agar ia benar-benar mampu menjadi khalifah di muka bumi ini.

            Adapun hadits lain yang menyatakan tentang hakikat pendidikan adalah sebagai berikut :
حَدَّثَنَا نَصْرُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُاللَّهِ ابْنُ دَاوُدَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ رَجَاءِبْنِ حَيْوَةَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيْلٍ عَنْ كَثِيْرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ : كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ اَبِي الدَّرْدَاءِ فِيْ مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَاَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا اَبَا الدَّرْدَاءِ اَتَيْتُكَ مِنَ الْمَدِيْنَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَدِيْثٍ بَلَغَنِيْ اَنَّكَ تُحَدِّثُ بِهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،قَالَ : فَمَا جَاءَ بِكَ تِجَارَةٌ ؟ قَالَ :لاَ، قَالَ : وَلاَ جَاءَ بِكَ غَيْرُهُ؟ قَالَ : لاَ، قَالَ فَاِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ سَلَكَ طَرِيْقً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنَّةْ...
“Telah disampaikan kepada kami oleh Nasr bin ‘Aly al-Jahdamy, Telah disampaikan kepada kami oleh ‘Abd Allah bin Dawud, dari ‘Asim bin Raja’ bin Haywah, dari Dawud bin Jamil, dari Kathir bin Qays, dia berkata suatu ketika aku duduk bersama Abu al-Darda’ di Masjid Damaskus, Sesorang datang kepadanya dan berkata: ‘wahai Abu al-Darda’ aku datang kepadamu dari Madinah kota Nabi Saw untuk mendaptkan sebuah hadits yang kamu dengarkan dari Rasulullah Saw, Abu al-Darada’ berkata : Jadi kamu datang bukan untuk berdagang? Orang itu menjawab: Bukan, Abu al-Darda berkata: dan bukan pula selain itu ? orang itu menjawab: Bukan, Abu al-Darda’ berkata: Sesungguhnya kau pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang meniti jalan untuk mendapatkan ilmu, Allah akan memudahan baginya jalan menuju surga....”

            Hadits yang dikaji dalam makalah ini merupakan salah satu diantara sekian banyak hadits Rasulullah Saw. Baik dalam bentuk qawliyyah, fi’liyyah  maupun taqririyyah dimana beliau Saw sebagai seorang yang ummy (buta baca tulis) memiliki perhatian yang sangat besar terhadap ilmu dan pendidikan. Beliau mengangkat derajat dan sangat memuliakan para pemilik ilmu, kemudian beliau menerapkan nilai-nilai etika yang harus dipedomani oleh orang yang berilmu. Ini menunjukkan bagaimana sunnah Rasulullah Saw telah terlebih dahulu menciptakan kaidah paling akurat dan nilai-nilai pendidikan paling agung, yang kebanyakan manusia bahkan dari kalangan kaum muslimin sendiri beranggapan bahwa nilai-nilai pendidikan itu adalah hasil ciptaan alam modern yang dalam istilah Nashr Hamid Abu Zaid "intaj al-tsaqafy".
                Pada hadis tersebut terkandung anjuran dan pahala yang sangat besar bagi mereka yang meniti jalan untuk mencari ilmu melalui berbagai media pendidikan, bahkan Rasulullah Saw memberikan garansi kemudahan mencapai surga bagi mereka yang meniti jalan untuk mencari ilmu. Nilai penting lainnya dari memahami hadits di atas adalah bahwa dalam meniti jalan menuntut ilmu terdapat proses pendewasaan jasmani dan rohani yakni bahwa selain tujuan filosofis terdapat pula tujuan insidental yaitu meningkatkan kecerdasan motorik, emosional, intelektual dan spiritual, sebab dalam meniti jalan menuntut ilmu dibutuhkan ketenangan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai kesulitan-kesulitan dalam belajar, Sebab kesuksesan seorang penuntut ilmu terletak dalam kesabarannya menghadapi berbagai bentuk kesulitan, kesusahan, dan keletihan dalam mengarungi proses pendidikan. Seluruh bentuk kesulitan yang dihadapi  oleh penuntut ilmu merupakan proses pendewasaan jasmani dan rohani. Dalam al-Qur'an Allah Swt mengisahkan tentang perjalanan Nabi Musa as bersama dengan pembantunya untuk mendapatkan ilmu dari Nabi Khidhr as.
                Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa makna dari kata thariqan dan ‘ilman dalam hadits tersebut adalah bahwa setiap manusia hendaknya memanfaatkan seluruh media pendidikan yang dapat membantu untuk mendapatkan ilmu utamanya ilmu agama secara bertahap dan berkesinambungan dengan tetap mengedepankan keikhlasan dan kesabaran dalam meniti proses pendidikan baik formal maupun non-formal, dan kemudahan meniti jalan menuju surga dapat dipahami bahwa ilmu dapat membantu memberikan kemudahan dalam mengamalkan amal-amal shaleh yang dapat dengan mudah pula menghantarkan menuju surga Allah Swt.

            Adapun sanad yang akan diteliti adalah sanad Ibn Majah denga No. Hadis 223. Sebagai berikut:
            Ibn Majah dia bernama lengkap Muhammad bin Yazid al-Rub’y Abu ‘Abd Allah bin Majah al-Qazwiny al-Hafidh, pemilik karya al-Sunan dan memiliki banyak karya tulis dia mendengarkan dan mengambil hadis dari banyak guru di berbagai kota seperti Khurasan, Iraq, Hijaz, Mesir, Sham dan sebagainya diantara salah satu gurunya yang banyak tersebut adalah Nashr bin ‘Aly al-Jahdamy, dia lahir pada tahun 209 H dan wafat pada tahun 273 H pada umur 97 tahun.
                  Nashr bin ‘Aly al-Jahdhamy dia bernama lengkap Nashr bin ‘Aly bin Shubhan al-Azdy al-Jahdhamy Abu ‘Amr al-Bashry. Wafat tahun 250 H. Para kritikus hadis menilainya sebaggai periwayat yang tsiqah (Ingatan yang tajam).
                  Setelah melakukan studi terhadap seluruh individu periwayat hadis sebagaimana yang terdapat dalam sanad Ibn Majah sebagaiman yang termaktub dalam sunan-nya dengan No. Hadis 223 baik dari sisi ‘adalah (keadilan) maupun dhabth (kapasitas intelektual), tampak bahwa terdapat tiga orang periwayat dengan predikat dha’if (lemah) mereka adalah; ‘Ashim bin Raja’ (periwayat 4), Dawud bin Jamil (periwayat 5), dan Katsir bin Qays (periwayat 6).
                  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sanad Ibn Majah tersebut adalah sanad yang dha’if disebabkan karena ke-dha’if-an tiga periwayat dalam sanadnnya. Tetapi apabila seluruh sanad hadis dikumpulkan, maka sanad Ibn Majah dapat naik tingkatan derajatnya menjadi hasan li ghairihi karena adanya syahid dari riwayat Abu Hurairah dan adanya mutabi’ dari jalur sanad lainnya, terlebih lagi hadis tersebut diriwayatkan oleh Muslim dari para periwayat dengan derajat periwayatan tertinggi yakni tsiqat tsabt. Karena sanad hadis yang diteliti terangkat derajatnya dari da’if menjadi hasan li ghairihi, maka dapat dilakukan studi terhadap matan (redaksi) hadis.
                  Dari hasil studi baik sanad maupun matan di atas penulis menyimpulkan bahwa hadits yang diteliti bila ditinjau dari sisi sanadnya adalah sanad dengan kualitas hasan li ghairihi, sementara dari sisi matan atau redaksinya adalah hadits dengan kualitas shahih baik lafadh maupun maknanya.

3. Penerapan Hadits Hakikat Pendidikan dalam Kehidupan Saat Ini
            Melihat kondisi saat ini, hadits diatas sangat sesuai dan relevan, karena masyarakat mulai menyadari akan pentingnya pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan pemerintah pun telah memfasilitasinya. Seperti halnya penetapan kurikulum pendidikan yang telah disusun sesuai dengan kebutuhan kita. Dengan ilmu, manusia bisa lebih bernilai dan berwibawa. Sebaliknya, tanpa ilmu yang didapat dari proses pendidikan, manusia tidak dapat melaksanakan aktifitasnya dengan baik menurut ajaran islam. Pendidika tidak harus dilakukan dalam konteks formal, karena pendidikan bisa terjadi dalam konteks semi formal dan non formal. Dalam artian, pendidikan bukan hanya bisa dilakukan di sekolah, tetapi bisa juga dilakukan di rumah, di tempat kursus, di masyarakat dan lain sebagainya.




BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Hakikat pendidikan adalah menumbuh kembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan global. Selain dalam Al-Qur’an, hakikat pendidikan juga dijelaskan dalam berbagai hadits. Yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang wajib bagi setiap muslim. Dalam kehidupan saat ini, hadits yang telah disebutkan sangat relevan karena masyarakat telah menyadari akan pentingnya pendidikan. Sehingga mereka berbondong-bondong untuk belajar. Pemerintah pun telah memfasilitasi pendidikan tersebut.


KRITIK DAN SARAN
Penulis memohon maaf atas segala kehilafan dan kekurangan makalah ini dan senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini lebih bermanfaat dan lebih baik kualitasnya dimasa mendatang. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua.